Menutup Area Resapan Air Picu Banjir dan Kekeringan, Ini Dampak dan Solusinya
Banda Aceh, 29/4 — Kebiasaan menutup area resapan air dengan beton atau paving block semakin marak terjadi di lingkungan permukiman. Hal ini umumnya dilakukan untuk alasan estetika, kebersihan, dan kemudahan perawatan halaman. Namun, tanpa disadari, perubahan kecil ini berdampak besar terhadap sirkulasi air di lingkungan sekitar. Permukaan tanah yang seharusnya menyerap air hujan justru menjadi kedap, sehingga air langsung mengalir ke saluran drainase. Kondisi ini memicu ketidakseimbangan dalam siklus alami air.
Dampak langsung dari berkurangnya area resapan adalah meningkatnya limpasan air permukaan (runoff) saat hujan. Air yang tidak terserap akan mengalir lebih cepat ke selokan dan sungai, sehingga meningkatkan risiko genangan hingga banjir, terutama di kawasan padat. Selain itu, berkurangnya infiltrasi air ke dalam tanah menyebabkan cadangan air tanah tidak terisi kembali secara optimal. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu kekeringan, meskipun curah hujan tergolong tinggi. Fenomena ini menunjukkan bahwa banjir dan kekeringan bisa terjadi secara bersamaan akibat gangguan pada siklus air.
Contoh sederhana dapat dilihat pada lingkungan perumahan yang seluruh halamannya dilapisi semen tanpa menyisakan tanah terbuka. Saat hujan deras, air langsung mengalir ke jalan dan menyebabkan genangan karena kapasitas drainase terbatas. Sebaliknya, pada musim kemarau, sumur warga mengalami penurunan debit air karena tidak adanya resapan yang mengisi ulang air tanah. Situasi ini sering dianggap sebagai masalah drainase semata, padahal akar permasalahannya adalah hilangnya fungsi resapan di tingkat rumah tangga. Perubahan kecil di banyak rumah dapat menimbulkan dampak besar secara kolektif.
Untuk mengatasi permasalahan ini, masyarakat dapat mulai menerapkan langkah mitigasi sederhana di lingkungan rumah. Salah satunya dengan menyediakan area resapan seperti taman kecil, lubang biopori, atau sumur resapan. Penggunaan paving block berpori juga dapat menjadi alternatif agar air tetap dapat meresap ke dalam tanah. Selain itu, penting untuk tidak menutup seluruh permukaan halaman dengan material kedap air. Upaya ini membantu menjaga keseimbangan antara air yang mengalir dan yang meresap.
Menjaga fungsi resapan air merupakan bagian penting dalam pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum terus mendorong penerapan infrastruktur berbasis lingkungan, termasuk peningkatan kapasitas resapan di kawasan permukiman. Namun, keberhasilan upaya ini sangat bergantung pada kesadaran masyarakat dalam mengelola ruang di sekitar rumah. Dengan memberikan ruang bagi air untuk kembali ke tanah, masyarakat turut menjaga ketersediaan air bersih dan mengurangi risiko bencana hidrologi.
